Di era media sosial, ujaran kebencian, pelabelan negatif, dan polarisasi agama semakin mudah menyebar. Toleransi yang seharusnya menjadi fondasi hidup bersama sering kali tergeser oleh narasi ekstrem dan debat yang memecah. Namun, media sosial juga menyimpan potensi besar sebagai ruang bagi dialog lintas iman yang konstruktif.
Melalui pendekatan reflektif dan sosiolinguistik, buku ini mengajak pembaca memahami peran bahasa dalam memperkuat atau melemahkan toleransi. Semoga buku ini menjadi kontribusi kecil bagi terciptanya ekosistem digital yang ramah, empatik, dan menjunjung tinggi keberagaman agama.














Reviews
There are no reviews yet.